Kuliner Nusantara Hangatkan Persahabatan Indonesia–Belanda

Kolaborasi di antara mereka berpotensi membuka pasar baru, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha Indonesia. Dengan demikian, promosi kuliner tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya, tetapi juga membawa peluang bagi masyarakat yang berada di balik setiap produk dan hidangan.

Dari Remo Bolet hingga Rujak Petis Malang

Suasana Indonesia Culinary Diplomacy 2026 semakin semarak melalui perpaduan pertunjukan seni, diskusi, dan pengalaman mencicipi kuliner khas Nusantara.

Acara dibuka dengan penampilan tari Remo Bolet oleh Deby Subiyanti, dilanjutkan dengan sambutan Maya Wulan Montolalu dan Mariska Dwianti Dhanutirto.

Dalam sesi culinary talkshow, Chef Agus Hermawan dan Chef Reza in Holland berbagi pandangan mengenai upaya mempertahankan cita rasa autentik masakan Indonesia agar semakin dikenal dan dinikmati masyarakat Belanda.

Pengunjung juga menikmati penampilan tari Bajidor Kahot oleh Ratu Nabila, diskusi dan tanya jawab, serta workshop dan sesi mencicipi Rujak Petis Malang dan Dabu-Dabu Lilang Manado.

Melalui kegiatan tersebut, pengunjung tidak hanya melihat atau mendengar tentang budaya Indonesia, tetapi juga berkesempatan merasakan sebagian kekayaannya secara langsung.

Bazar kuliner dan produk ekonomi kreatif Nusantara turut menghadirkan beragam sajian dan karya, sementara penampilan musik oleh Vivi Soebono menambah kehangatan suasana.

Setiap unsur acara menghadirkan cara berbeda untuk mengenal Indonesia—melalui gerak tari, alunan musik, kreativitas produk, hingga cita rasa yang menyatukan meja makan.

Antusiasme yang Membuka Harapan Baru

Sambutan masyarakat terhadap acara ini terlihat dari kuota pendaftaran yang terpenuhi sehingga pendaftaran ditutup lebih awal.

Melihat respons positif tersebut, GEKRAFS Belanda mempertimbangkan penyelenggaraan acara dengan durasi lebih panjang pada tahun mendatang. Harapannya, semakin banyak pelaku usaha, seniman, dan masyarakat dapat terlibat serta memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan karya dan potensi mereka.

Antusiasme ini menjadi dorongan untuk terus membuka ruang pertemuan antara pelaku ekonomi kreatif Indonesia dan masyarakat internasional. Sebab, semakin luas kesempatan untuk berinteraksi, semakin besar pula peluang bagi produk, cerita, dan tradisi Indonesia untuk dikenal di luar negeri.

Merawat Persahabatan, Menumbuhkan Kolaborasi

Terselenggaranya Indonesia Culinary Diplomacy 2026 tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. DPLN GEKRAFS Belanda menyampaikan apresiasi kepada KBRI Den Haag, Indonesia House of Amsterdam, sponsor resmi BRI dan Bank Mandiri, serta sponsor lokal Sanga-Sanga, termasuk atas dukungan penyediaan goodie bag bagi peserta.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para chef, pembicara, pelaku UMKM, seniman, pembawa acara Gladies Ticoalu, mitra, tim dokumentasi, panitia, relawan, dan seluruh peserta.

Bagi GEKRAFS Belanda, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan kuliner dan kreativitas Indonesia kepada dunia, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Belanda.

Pada akhirnya, kekuatan diplomasi kuliner tidak semata-mata terletak pada berapa banyak hidangan yang disajikan atau berapa banyak orang yang hadir. Nilai yang lebih mendalam terletak pada cerita yang dibagikan, hubungan yang terjalin, dan peluang baru yang tumbuh setelah sebuah perjumpaan.

Dari meja makan, orang-orang dapat saling mengenal. Dari rasa, mereka dapat menemukan cerita yang sama-sama bermakna. Dan dari cerita itulah, persahabatan Indonesia–Belanda dapat terus dirawat, satu perjumpaan dan satu cita rasa pada satu waktu.

Tentang GEKRAFS Belanda

Dewan Perwakilan Luar Negeri Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (DPLN GEKRAFS) Belanda berperan dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif, memperkuat jejaring pelaku kreatif, serta membangun kolaborasi dan promosi potensi ekonomi kreatif Indonesia di Belanda.

Tinggalkan Balasan