Kuliner Nusantara Hangatkan Persahabatan Indonesia–Belanda

Amsterdam, Kabarbelanda.com – Ada cara sederhana untuk mengenal sebuah bangsa: mencicipi makanannya, mendengarkan cerita di balik resepnya, dan merasakan kehangatan budaya yang menyertainya. Dari aroma rempah-rempah hingga kekayaan rasa masakan daerah, kuliner Indonesia membawa cerita tentang keberagaman, tradisi, dan keramahan yang dapat menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Semangat itulah yang terasa dalam Indonesia Culinary Diplomacy 2026, sebuah perayaan kuliner dan kreativitas Nusantara yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Luar Negeri (DPLN) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Belanda di Indonesia House of Amsterdam, Jumat (23/10/2026).

Meygun Kitchen

Digelar dalam rangka memperingati Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober, acara ini bukan sekadar memperkenalkan aneka hidangan Indonesia kepada masyarakat Belanda. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan ruang perjumpaan, tempat budaya saling dikenali, persahabatan tumbuh, dan peluang kerja sama antara kedua negara mulai dibangun melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mariska Dwianti Dhanutirto, hadir bersama jajaran staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, para chef, pelaku usaha, seniman, mitra, dan masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan kuliner Indonesia.

Di tengah beragam hidangan, pertunjukan seni, dan pertemuan antarpeserta, kuliner menjadi bahasa universal yang menghubungkan orang-orang, bahkan ketika mereka berasal dari budaya dan pengalaman yang berbeda.

Setiap Hidangan Menyimpan Cerita Indonesia

Bagi Ketua DPLN GEKRAFS Belanda, Maya Wulan Montolalu, kuliner adalah bagian penting dari identitas bangsa yang menyimpan cerita tentang kekayaan alam, rempah-rempah, tradisi, dan kehidupan masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara.

“Melalui kuliner, kita dapat saling mengenal dan membangun persahabatan,” ujar Maya.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari Indonesia Culinary Diplomacy 2026. Sebuah hidangan tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga tentang orang-orang yang menanam bahan pangan, merawat tradisi, mengolah resep, dan mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tim penyelenggara Indonesia Culinary Diplomacy 2026

Di balik sepiring makanan, terdapat kerja keras petani, nelayan, produsen rempah-rempah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta para chef yang menjaga agar kekayaan rasa Indonesia tetap hidup dan dapat dinikmati lintas negara.

Menurut Maya, kuliner juga membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, bertemu calon mitra, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Karena itu, GEKRAFS Belanda ingin menjadikan kuliner sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan Indonesia melalui cita rasa, budaya, dan kreativitas, sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dan Belanda.

Mengenalkan Indonesia, Satu Rasa pada Satu Waktu

Dukungan terhadap diplomasi kuliner juga disampaikan Wakil Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Mariska Dwianti Dhanutirto. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif GEKRAFS Belanda yang menghadirkan kuliner sebagai sarana promosi budaya dan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.

“Ketika kita memperkenalkan makanan Indonesia kepada dunia, pada hakikatnya kita sedang memperkenalkan Indonesia,” tegasnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung melalui pertemuan resmi atau forum formal. Diplomasi juga dapat hadir melalui pengalaman sederhana: seseorang yang untuk pertama kalinya mencicipi masakan Indonesia, mengenal rempah yang belum pernah ditemuinya, atau mendengarkan cerita tentang asal-usul sebuah hidangan.

Dari pengalaman tersebut, rasa ingin tahu dapat tumbuh menjadi pemahaman, dan pemahaman dapat membuka jalan menuju persahabatan serta kerja sama.

Mariska juga menyoroti bagaimana industri kuliner mempertemukan berbagai mata rantai ekonomi, mulai dari petani, nelayan, produsen rempah-rempah, UMKM, chef, pemilik restoran, hingga pelaku industri kreatif.

Tinggalkan Balasan