Penulis: Yuke Mayaratih
AMSTERDAM, KabarBelanda.com — Di tengah udara Amsterdam yang dingin, dengan suhu sekitar 14 derajat Celsius, kehangatan justru terasa di antara hampir 300 jemaat dan tamu undangan yang menghadiri perayaan 15 tahun berdirinya Gereja Oikumene Kawanua Nederland (GOKN) di Belanda, Minggu, 25 Oktober 2026.
Mengusung tema “God vinden in de broederschap” atau “Menemukan Tuhan dalam Persaudaraan”, perayaan ini bukan sekadar menandai perjalanan sebuah gereja dan komunitas. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang untuk merayakan kebersamaan, mempererat persaudaraan, dan merawat ikatan di antara sesama warga Indonesia di Belanda.

Acara dimulai tepat pukul 15.30 waktu setempat. Suasana dibuka dengan lagu “Opo Wana Natase” yang diiringi alat musik tradisional khas Sulawesi Utara, kolintang.
Para penari berkebaya dan sebagian mengenakan pakaian adat turut membuka acara. Perpaduan musik tradisional, busana Nusantara, dan suasana ibadah menghadirkan nuansa Indonesia yang terasa begitu dekat, meskipun ribuan kilometer memisahkan mereka dari tanah air.
Menemukan Tuhan dalam Persaudaraan
Pesan persaudaraan menjadi inti khotbah yang disampaikan Pendeta Ryanto Adilang, M.Th., dengan bantuan Doris Bakarbessy yang menerjemahkan khotbah ke dalam bahasa Belanda.
Persaudaraan, sebagaimana tergambar dalam tema perayaan, tidak hanya terbatas pada hubungan sedarah atau ikatan keluarga. Mereka yang mengasihi Tuhan juga dipanggil untuk menjadi saudara, saling menyayangi, dan hadir bagi satu sama lain.

Namun, hidup dalam persaudaraan bukanlah perkara yang selalu mudah. Perbedaan pandangan, karakter, dan kepentingan dapat memunculkan konflik. Karena itu, kasih tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghargai, memaafkan, dan menjaga kebersamaan.
Pesan tersebut terasa relevan bagi komunitas Indonesia yang hidup jauh dari tanah kelahiran. Di perantauan, persaudaraan kerap menjadi tempat untuk berbagi cerita, menemukan dukungan, dan merasakan kembali kehangatan rumah.
Kolintang Mengiringi Pujian, Indonesia Terasa Dekat
Salah satu hal yang membuat ibadah kali ini terasa istimewa adalah penggunaan kolintang sebagai pengiring pujian. Tidak ada band atau alat musik modern seperti gitar dan keyboard. Suara kolintang menjadi pengiring utama, menghadirkan warna khas Nusantara dalam ibadah yang berlangsung di Belanda.

Menariknya, lagu-lagu pujian yang dibawakan merupakan lagu rohani Indonesia yang dikenal luas, termasuk “Ku Tak Pandang dari Gereja Mana” dan “Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan”.
Perpaduan lagu pujian dan kolintang menciptakan suasana yang unik. Musik tradisional Sulawesi Utara itu tidak hanya mengiringi jemaat bernyanyi, tetapi juga menghadirkan sentuhan budaya yang mengingatkan pada akar dan identitas mereka.
Di tengah kehidupan di negeri orang, alunan kolintang seolah menjadi penghubung antara kenangan akan kampung halaman dan kehidupan yang kini dijalani di Belanda.
Ibadah berakhir sekitar pukul 17.15 waktu setempat. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun sebagai ungkapan syukur atas perjalanan 15 tahun GOKN di Belanda.

