Nasi Goreng, Rendang, Batik, dan Tanah Airku Tak Kulupakan

Penulis: Nugroho Agung Prasetyo

Kabarbelanda.com, Enschede – “Tanah airku tidak kulupakan…”
Sepenggal lirik lagu Tanah Airku karya Ibu Sud selalu memiliki makna dan rasa tersendiri saat didengar. Ketika lantunan lagu tersebut dibawakan Anggun C Sasmi dalam pesta kemenangan tim sepakbola Indonesia di FIFA Asean Cup, ribuan penonton di stadion Gelora Bung Karno dan sejumlah pemain diaspora Indonesia larut dalam haru menyanyikannya lagu tersebut. Begitu pula dengan kebanyakan diaspora Indonesia yang menyaksikannya di berbagai platform digital.

Lagu yang beberapa di antara.kita mengenalnya sejak masa sekolah itu berbicara tentang pergi jauh, kampung halaman, dan tanah air yang tetap tinggal dalam ingatan. Ibu Sud atau Saridjah Niung, memang menempatkan kerinduan dan kebanggaan terhadap tanah air sebagai jiwa lagu tersebut.
Bagi diaspora Indonesia di Belanda, perasaan itu mungkin kerap hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.


Aroma nasi goreng dari dapur. Rendang ketika keluarga berkumpul. Pisang goreng menemani kopi. Sambal dan kerupuk di meja makan. Atau batik, wayang, kain Nusantara, dan berbagai benda khas Indonesia yang tersimpan di rumah.

Benda-benda tersebut mungkin sederhana, tetapi sering kali menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: ingatan tentang Indonesia.

Kehadiran Indonesia di Belanda tidak muncul kemarin sore. Ia tumbuh dari sejarah panjang dan sering kali kompleks antara dua negara: kolonialisme, perang, kemerdekaan, hingga migrasi pascakolonial.
Data Centraal Bureau voor de Statistiek (CBS) mencatat sekitar 400.000 orang dari bekas Hindia Belanda menetap di Belanda antara 1945 dan 1962. Sekitar 160.000 di antaranya kemudian kembali ke Indonesia hingga akhir 1980-an. Pada 1951, sekitar 12.500 orang Maluku, termasuk mantan anggota KNIL beserta keluarga dan kelompok lainnya, juga tiba di Belanda.


Jejak itu masih terlihat hingga hari ini.

Data CBS per 1 Januari 2026 mencatat 347.997 penduduk Belanda dengan Indonesia sebagai country of origin: 95.939 lahir di luar Belanda dan 252.058 lahir di Belanda. Kategori statistik ini tentu tidak otomatis sama dengan identitas “diaspora Indonesia”, tetapi menunjukkan kuatnya jejak genealogis Indonesia dalam masyarakat Belanda.

Namun ketika manusia berpindah negara, ternyata yang ikut berpindah bukan hanya manusia. Resep ikut bermigrasi. Cerita ikut bermigrasi. Ingatan pun ikut bermigrasi.

Di Indonesia, nasi goreng mungkin makanan biasa. Tetapi bagi seseorang yang puluhan tahun hidup di Belanda, aromanya bisa bekerja seperti mesin waktu.

Kecap dan bawang yang mulai tercium dari dapur dapat mengingatkan pada masakan ibu. Kerupuk di samping piring membawa ingatan tentang meja makan keluarga. Sambal dengan rasa tertentu bahkan dapat mengingatkan seseorang pada kota atau keluarga tempat ia tumbuh.

Tinggalkan Balasan