Orang akhirnya bukan sekadar menikmati nasi goreng. Ia sedang menikmati sebuah ingatan.
Begitu pula pisang goreng. Bayangkan seorang oma yang pernah tinggal di Indonesia membuat pisang goreng untuk cucunya yang lahir dan tumbuh di Belanda. Sang cucu mungkin tidak memiliki kenangan tentang sore di Jakarta, Bandung, Surabaya atau Ambon.
Tetapi ia mempunyai kenangan tentang pisang goreng buatan oma.
Kelak, ketika aroma yang sama ditemuinya di sebuah pasar malam, yang kembali bukan hanya rasa. Mungkin ada wajah oma, rumah keluarga, percakapan di meja makan, dan cerita tentang Indonesia.
Tanpa disadari, oma tidak hanya mewariskan resep. Ia sedang mewariskan Indonesia.
Rendang bekerja dengan cara serupa. Generasi pertama mungkin mengenalnya dari kehidupan di Indonesia. Generasi berikutnya mengenalnya dari orang tua dan kakek-nenek.
Bahasa Indonesia boleh semakin jarang digunakan, tetapi rasa tetap dikenali. Terkadang rasa mampu berbicara ketika bahasa mulai menghilang.

Cultural proximity tidak hanya bekerja melalui makanan. Batik dapat mempunyai fungsi yang sama. UNESCO memasukkan Indonesian Batik ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009.
Menariknya, UNESCO menekankan bahwa batik menyertai berbagai fase kehidupan masyarakat Indonesia dan keterampilan serta maknanya kerap diwariskan dalam keluarga dari generasi ke generasi.
Maka selembar batik di sebuah rumah di Belanda bisa menjadi lebih dari sekadar pakaian. “Ini batik punya oma.” “Ini dibawa dari Indonesia.”. “Ini dulu dipakai papa.”
Cerita membuat kain berubah menjadi arsip keluarga.
Hal yang sama bisa terjadi pada wayang di ruang tamu, ukiran, kain tradisional, foto lama, Merah Putih, kaos bertuliskan Indonesia, bahkan botol kecap atau sebungkus kerupuk di dapur. Benda menjadi pemantik cerita tentang siapa kita dan dari mana keluarga kita berasal.
Mengapa Indonesia tetap terasa dekat? Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep cultural proximity yang dikembangkan Joseph D. Straubhaar.
Sederhananya, manusia cenderung memiliki kedekatan dengan sesuatu yang bahasa, nilai, kebiasaan, simbol, dan pengalaman budayanya familiar.
Dalam keluarga diaspora, prosesnya mungkin berlangsung seperti ini: Rasa dan Simbol, Memori, Emosi, Identitas, dan Sense of Belonging.

Itulah pula yang membuat pasar malam bernuansa Indonesia di Belanda menarik. Orang memang datang mencari makanan, batik, pakaian atau kerajinan. Namun di balik transaksi itu terjadi perjumpaan dengan memori.
Ada nasi goreng. Ada rendang. Ada pisang goreng. Ada batik. Ada bahasa Indonesia bercampur bahasa Belanda.
Lalu seseorang berhenti dan berkata:
“Mijn oma kwam uit Indonesië.” Oma saya berasal dari Indonesia.
Satu kalimat dapat membuka cerita keluarga yang mundur puluhan tahun.
Tanah air itu tidak hilang dari kalbu. Generasi boleh berganti. Bahasa berubah. Cara hidup semakin Belanda. Tetapi identitas tidak selalu diwariskan melalui buku sejarah.
Kadang ia diwariskan melalui dapur, meja makan, resep keluarga, batik di lemari, atau cerita yang dimulai dengan kalimat:
“Dulu, waktu kami di Indonesia…”
Mungkin karena itulah lirik Tanah Airku tetap terasa relevan setelah melewati zaman dan generasi.
Jarak Indonesia dan Belanda dapat dihitung dalam kilometer. Tetapi kedekatan budaya mempunyai ukuran berbeda.
Kadang Indonesia hanya berjarak satu suapan nasi goreng, aroma pisang goreng dari dapur, rasa rendang, atau selembar batik peninggalan oma.
Kita boleh pergi jauh. Tetapi seperti pesan sederhana dalam lagu Ibu Sud, tanah air ternyata bisa tetap tinggal di dalam kalbu.

