Demonstrasi Berlapis Kecemasan di Kota Den Haag

Penulis: Azuzan JG

Arnhem, Kabarbelanda.com – Etalase kaca toko-toko di pusat keramaian Kota Den Haag ditutupi lembaran multiplex. Di berbagai sudut kota, polisi berjaga-jaga. Arus lalu lintas yang melewati pusat kota dialihkan. Serombongan polisi bersepeda memasuki jalan-jalan kecil. Pasukan berkuda anti-huru-hara berpatroli ke sana kemari, membubarkan kerumunan orang di pinggir jalan. Situasi itu tampak mencolok pada 31 Oktober 2026 di Den Haag.

Apa sesungguhnya yang terjadi di kota yang merupakan pusat pemerintahan Belanda itu?

Tanggal 31 Oktober 2026 ditengarai akan menjadi hari berlangsungnya demonstrasi besar kaum Gen Z di Belanda, seiring dengan gelombang demonstrasi yang tengah terjadi di berbagai negara Eropa. Informasi itu seperti sumbu yang tersulut, menjalar dengan cepat beberapa hari menjelang 31 Oktober. Beredarnya informasi tersebut membuat toko-toko di berbagai kota di Belanda memasang pelindung etalase dari multiplex tebal untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan penjarahan massal yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Sumbu awal dari seluruh kegelisahan ini disulut oleh Fenix, sebuah simpul gerakan pemuda lokal yang menyuarakan persoalan himpitan ekonomi Generasi Z.

“Bagi kami, generasi Z, masalahnya adalah biaya hidup kini menjadi tidak terjangkau. Upah minimum untuk usia 18 tahun terlalu rendah. Kami tidak mampu membeli kebutuhan pokok, harga sewa tempat tinggal sangat mahal, bunga pinjaman mahasiswa terus naik, dan ditambah lagi ada kemungkinan diberlakukannya kembali wajib militer.”

Demikian ungkap Izzy van Baar (23), yang ikut mengorganisasi rencana demonstrasi tersebut. Pendapat Izzy yang mewakili Fenix ini dilansir Trouw, salah satu surat kabar terkemuka di Belanda, pada 30 Oktober 2026.

Fenix mengambil langkah darurat setelah mencermati situasi informasi digital yang kian memanas dan mendeteksi adanya indikasi penunggangan isu oleh kelompok-kelompok di luar mahasiswa. Fenix mengkhawatirkan mobilisasi kelompok radikal dari luar kota yang berniat menunggangi aksi damai tersebut dan mengubahnya menjadi kerusuhan.

Melalui pernyataan resmi yang dirilis di kanal komunikasi publik mereka, Fenix kemudian secara tegas mengumumkan bahwa rencana demonstrasi tersebut resmi dibatalkan. Mereka menolak menjadi pemantik dari sebuah skenario yang berpotensi berujung pada kekacauan sipil.

Akan tetapi, di tengah pusaran informasi yang bergerak lebih cepat daripada logika, pembatalan resmi itu tidak sanggup membendung riak yang telanjur membesar. Anak-anak muda yang telah terprovokasi oleh simpang siur informasi, poster-poster buatan AI, serta seruan liar di Telegram tetap memilih turun ke jalan di kota-kota besar Belanda.

Khususnya di Den Haag, pada 31 Oktober, anak-anak muda itu sudah berkumpul di Malieveld sebelum pukul 14.00, sesuai dengan flyer digital ajakan aksi yang mereka terima di telepon genggam masing-masing.

Beberapa jam sebelum anak-anak muda itu berkumpul, ratusan suporter sepak bola ADO Den Haag juga telah berkumpul di kafe-kafe kawasan Plein, tidak jauh dari lapangan Malieveld. Suporter ADO ini dikenal keras dan militan terhadap kotanya.

“Kami, sebagai kelompok garis keras di Den Haag, tidak menentang tindakan kekerasan; bahkan itu adalah hobi kami. Namun, yang tidak akan kami toleransi adalah penjarahan kota kami, penghancuran warisan budaya kami, atau bentuk vandalisme lainnya. Oleh karena itu, kami akan hadir di Plein pada hari Sabtu mulai pukul 12.00 siang, untuk melindungi kota kami atau sekadar untuk minum-minum.”

Demikian ujar salah seorang suporter ADO Den Haag, sebagaimana dilansir NRC pada 31 Oktober.

Ketegangan demonstrasi di Den Haag hari itu dipicu oleh persoalan yang berlapis. Fenix menuntut perbaikan kualitas hidup bagi Gen Z, suporter ADO ingin menjaga ketertiban kotanya, sedangkan Defend Holland gencar menyuarakan slogan “AZC, weg ermee!” (singkirkan pusat pencari suaka!).

Tinggalkan Balasan