AZC merupakan singkatan dari Asielzoekerscentrum, yakni tempat yang difasilitasi pemerintah Belanda untuk menampung para pencari suaka dari berbagai negara. Selain di depan patung Willem van Oranje, Defend Holland juga menggelar aksi hari itu di depan stasiun kereta Den Haag Centraal. Mereka mengibarkan bendera Prinsenvlag sambil memutar lagu-lagu kebangsaan melalui pengeras suara.

Eskalasi ketegangan terasa memuncak ketika, di depan patung Willem van Oranje, beberapa orang dari kelompok Defend Holland mengibarkan bendera Prinsenvlag dan bendera Celtic. Kedua bendera ini menyimbolkan kejayaan masa lalu Belanda, menyiratkan supremasi bangsa Belanda, sekaligus menggelorakan nasionalisme.
Lokasi pengibaran bendera itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari kafe-kafe tempat para suporter ADO bergerombol. Salah seorang suporter ADO bergegas menghampiri kelompok pengibar bendera tersebut, lalu mematahkan tiang bendera Celtic sambil berbicara keras: “We hebben niks met Nazi’s!” (Kami tidak ada urusan dengan Nazi!)
Puncak ketegangan terjadi sekitar pukul 15.00. Beberapa anak muda menyalakan petasan di Malieveld, memecah kesunyian kota dengan dentuman yang memicu kepanikan. Gelegar petasan itu sesaat kemudian disambut suara derit pintu besi toko-toko yang diturunkan hampir serentak. Suaranya menggema bersahut-sahutan, menyisakan ruang kota yang ganjil dan mencekam.

Orang-orang berlarian ke sana kemari. Sirene mobil polisi meraung-raung. Di bawah payung hukum Perintah Darurat (Noodbevel), Polisi Anti-Huru-Hara (ME) bergerak agresif. Di peron dan koridor stasiun, beberapa remaja langsung dicegat dan ditahan petugas, semata-mata karena mereka mengenakan pakaian serba hitam, sesuai dengan dress code yang semula digaungkan Fenix.
Di berbagai tempat di Kota Den Haag dan kota-kota lainnya di seluruh Belanda, sebanyak 34 remaja ditahan polisi, tetapi kemudian dibebaskan. Eskalasi demonstrasi berhasil dicegah oleh polisi, namun menyisakan kecemasan hingga saat ini.
Hal menarik terjadi pada hari dan waktu yang persis sama. Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari situasi tegang di pusat kota, ratusan orang dari berbagai kalangan diaspora Indonesia juga menggelar demonstrasi di depan gedung Vredespaleis, Den Haag.

Perlu dicatat, gedung Vredespaleis merupakan markas International Court of Justice (Mahkamah Internasional). Demonstrasi di tempat itu merupakan aksi gabungan berbagai organisasi, antara lain Watch65, Serumpun Kolektif, Lestari Bergerak, serta sejumlah jaringan kolektif masyarakat sipil lainnya.
Tuntutan mereka berbeda dari kompleksitas persoalan yang disuarakan para demonstran di pusat kota. Aksi solidaritas kaum diaspora ini menyampaikan kritik terhadap kondisi politik, krisis lingkungan, serta kebijakan pemerintah Indonesia.
Dalam demonstrasi tersebut, mereka mengangkat beberapa isu utama. Salah satunya adalah karhutla yang terus terjadi, yang mereka pandang sebagai bentuk kejahatan ekosida oleh negara dan korporasi, serta merugikan ruang hidup dan perekonomian rakyat.
Selain itu, mereka juga mengkritik beratnya beban hidup ekonomi mayoritas masyarakat, yang dibarengi dengan pembungkaman serta militerisasi ruang aspirasi sipil.
Aksi yang diberi nama “Ecocide” tersebut diwujudkan melalui pemasangan spanduk, orasi, dan penampilan seni sebagai bentuk ekspresi budaya yang damai. Aksi diaspora Indonesia di Den Haag berlangsung tertib dan aman, tanpa kerusuhan.
Mereka telah menyampaikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian Den Haag tiga minggu sebelum munculnya isu demonstrasi Gen Z.
Dalam wawancara eksklusif, Lea Pamungkas, yang bertindak sebagai bagian pers dan media dalam demonstrasi tersebut, menyampaikan bahwa aksi mereka bahkan dilindungi oleh londo putih, bukan londo ireng.
Ia memperjelas keterangannya dengan mengatakan bahwa pihak kepolisian Den Haag berkali-kali mendatangi mereka selama aksi berlangsung dan menyampaikan: “Kami menjaga dan menjamin keselamatan kalian.”

