Bern, Kabarbelanda.com – Ada banyak cara untuk memperkenalkan sebuah negara. Ada yang memilih bahasa, seni, musik, atau pariwisata. Indonesia memilih sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian manusia: makanan.
Selama lima hari, 15–19 September 2026, aroma dan cita rasa Nusantara hadir di Gross-Wabern Restaurant, Bern, Swiss. Gado-gado, martabak, kroket sayur, nasi goreng, nasi uduk, mi goreng, rendang, sate hingga ayam goreng geprek sambal menjadi bagian dari Indonesia Culinary Week 2026.
Tak hanya makanan utama. Pengunjung juga diajak mengenal beragam olahan tempe dan tahu serta minuman tradisional seperti wedang uwuh dan wedang jahe kayu manis limau, lengkap dengan kopi spesial Indonesia.

Bagi sebagian pengunjung di Bern, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal Indonesia melalui sesuatu yang sederhana sekaligus kuat: rasa.
Dari dapur Bali ke meja makan di Bern
Di balik sajian Nusantara itu ada Komang Adi Purnawirawan, juru masak asal Bali yang juga bertugas sebagai juru masak Wisma Duta Besar Republik Indonesia di Bern.
Pengalaman bekerja di sejumlah hotel berbintang di Bali membekali Adi—yang akrab disapa Bli Adi—dengan kemampuan untuk membawa cita rasa Indonesia ke tengah masyarakat Swiss.
Di tangannya, hidangan Indonesia tidak sekadar menjadi menu. Ia menjadi bagian dari cerita tentang keberagaman budaya dan kekayaan bahan alam Nusantara.
Para pengunjung pun memberikan respons positif. Sebagian bahkan datang kembali untuk menikmati kuliner Indonesia yang masih relatif sulit ditemukan di Bern.

Pengalaman berulang itu memperlihatkan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung dalam ruang pertemuan resmi. Percakapan tentang Indonesia bisa saja dimulai dari sepiring nasi goreng, sate, atau secangkir kopi.
Ketika Kuliner Membuka Pintu Pariwisata
Indonesia Culinary Week juga tidak berhenti pada urusan makanan.
Di salah satu sudut restoran, pengunjung dapat menemukan berbagai informasi mengenai pariwisata Indonesia. Kehadiran materi tersebut menjadi pelengkap untuk memperkenalkan kekayaan alam dan destinasi wisata Indonesia kepada masyarakat setempat.
Bagi mereka yang baru mengenal Indonesia melalui makanan, informasi tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia lebih jauh.
Salah seorang pengunjung, Duta Besar Republik Dominika bersama staf pendampingnya, bahkan menyampaikan keinginan untuk segera berkunjung ke Indonesia setelah mengetahui begitu banyak kekayaan alam dan kuliner Nusantara.
Di sinilah makanan menemukan perannya yang lebih luas: bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga membangun rasa ingin tahu.


