Penulis: Rieska Wulandari
Apa yang terjadi saat musim panas menyengat Eropa?
Orang-orang Romawi sejak berabad-abad lalu sudah memahami bahwa musim panas bisa menjadi masa yang sangat melelahkan, unbearable. Karena itu, banyak keluarga yang bekerja keras agar memiliki dua rumah: satu di kota untuk menunjang studi, karier, dan kehidupan profesional, seperti di Roma, Milan, atau Firenze, serta rumah kedua (seconda casa atau casa vacanza) di pegunungan, tepi danau, atau kawasan pantai seperti Dolomiti, Rimini, Amalfi, Cinque Terre, Sardegna, hingga Danau Como.
Begitu musim panas tiba, sekitar Juni hingga September, mereka pun “bedol kota” menuju rumah liburan.

Jangan heran bila pada puncak musim panas, kota seperti Milan terasa jauh lebih lengang. Banyak warganya memilih tinggal sementara di rumah kedua. Apalagi kini semakin banyak pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote atau yang di Italia dikenal sebagai smart working.
Sejak lama, masyarakat Italia tampaknya lebih memilih menjaga kesehatan mental daripada memaksakan diri bekerja dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Mereka tetap menyelesaikan pekerjaan dari tempat yang lebih nyaman secara iklim, di tepi pantai, danau, atau pegunungan, lalu menikmati apa yang mereka sebut dolce far niente.
Menikmati Indahnya Tidak Melakukan Apa-apa
Secara harfiah, dolce far niente berarti “kenikmatan dari tidak melakukan apa-apa”. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar bermalas-malasan.

Filosofi ini mengajarkan seni menikmati momen saat ini, bersantai tanpa rasa bersalah, membiarkan alam mengambil perannya, serta menghargai hal-hal sederhana dalam hidup. Tiduran di pantai sambil membaca buku, menemani anak bermain pasir atau berenang, menyeruput secangkir kopi, hingga sekadar memandangi orang-orang yang berlalu-lalang menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Suasana pantai di Italia pun mencerminkan filosofi tersebut. Banyak orang mengenakan pakaian santai, bahkan hanya berbikini. Saat udara terasa terlalu panas, mereka tinggal menceburkan diri ke laut, membilas tubuh di pancuran umum, lalu kembali berbaring menikmati semilir angin dengan buku di tangan. Anak-anak asyik bermain pasir di bawah payung pantai, sementara orang tua menikmati waktu tanpa terburu-buru.

