Penulis: Sita Phulpin
Akhirnya suhu di beberapa kota di Prancis mulai sedikit menurun setelah hampir dua pekan sebagian besar wilayah negara itu disengat udara panas luar biasa hingga mencapai 43°C, jauh di atas suhu tubuh normal manusia. Kondisi ini jelas sangat tidak nyaman. Tubuh menjadi mudah lelah. Bergerak sedikit saja keringat bercucuran, tenaga serasa terkuras. Tidur pun tak nyenyak dan gelisah.
Gelombang panas yang saat ini terjadi sudah dapat dikategorikan sebagai canicule, yaitu kondisi suhu ekstrem yang berlangsung sedikitnya tiga hari berturut-turut dengan temperatur di atas 30°C, baik siang maupun malam.

Pagi ini temperatur tercatat berkisar antara 19°C hingga 34°C, sementara suhu siang hari berada di kisaran 21°C hingga 37°C. Penurunan suhu tersebut ditandai dengan datangnya badai kecil dan hujan es di beberapa kota. Butiran es yang cukup besar mengganggu kelancaran transportasi publik serta merusak atap rumah dan kaca mobil.
Canicule Datang Lebih Awal
Secara resmi, Eropa baru memasuki musim panas pada 21 Juni. Namun, canicule telah dua kali menyengat Prancis tahun ini. Gelombang panas pertama terjadi pada akhir musim semi dan berlangsung sekitar sepekan. Setelah itu sempat turun hujan disertai udara yang cukup dingin, sesuatu yang tidak lazim terjadi menjelang akhir Mei, sebelum gelombang panas kembali melanda.

Panjang dan intensitas canicule kali ini bahkan telah melampaui rekor gelombang panas tahun 2003. Yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini belum dapat dipastikan kapan fenomena ini akan benar-benar berakhir. Para ahli meteorologi memperkirakan canicule masih akan berlangsung hingga pertengahan Juli.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Canicule bukan sekadar membuat orang kepanasan. Dampaknya jauh lebih luas. Selain merenggut korban jiwa, fenomena ini juga membawa konsekuensi ekonomi yang menuntut perhatian serius.
Hingga kini, Sapeurs-Pompiers (pasukan pemadam kebakaran) dan SAMU (layanan medis darurat) Prancis mencatat ribuan orang meninggal selama periode canicule kali ini. Jumlah tersebut disebut lebih tinggi dibandingkan korban pada gelombang panas tahun 2003.

Sebagian korban meninggal akibat henti jantung karena suhu yang terlalu tinggi. Sebagian lainnya tenggelam ketika berenang di sungai, kanal, maupun laut untuk mencari kesegaran. Banyak kasus disebabkan oleh hydrocution atau choc thermique (kejutan temperatur), yaitu perubahan suhu tubuh yang sangat drastis dari kondisi sangat panas ke air yang dingin. Kondisi ini dapat memicu serangan jantung atau kram mendadak pada tangan maupun kaki sehingga korban tidak mampu berenang kembali ke tepi. Tercatat sedikitnya 75 orang meninggal akibat tenggelam.

