Namun, sorotan utama jatuh pada Siapa Dia. Film ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman sinematik yang merangkul berbagai lapisan makna. Dewan juri AFF menilai karya tersebut sebagai sesuatu yang melampaui batas genre—sebuah musikal lintas generasi yang juga menjadi puisi visual dan refleksi politik yang halus.
Melalui karakter Layar, seorang bintang film yang dilanda kejenuhan, Garin Nugroho menghadirkan perjalanan batin yang penuh simbol dan emosi. Visual dramatis, pencahayaan kuat, serta koreografi yang menyatu dengan narasi menjadikan film ini sebuah karya yang utuh dan orisinal.
Partisipasi Indonesia di AFF bukanlah yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, film-film Indonesia konsisten mencatatkan prestasi, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam sinema Asia.
Lebih dari sekadar festival, Indonesian Day menjadi jembatan budaya. Ia mempertemukan dua bangsa dalam bahasa yang universal: cerita. Di tengah perbedaan latar belakang, film menjadi medium yang menyatukan—membangun empati, membuka dialog, dan menumbuhkan rasa saling memahami.
Bagi KBRI Roma, langkah ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang kaya, kreatif, dan penuh warna. Harapannya, dari layar-layar di Roma, akan lahir kolaborasi baru yang memperkuat hubungan Indonesia dan Italia, tidak hanya dalam seni, tetapi juga dalam semangat kemanusiaan yang sama.

