Ryanto Adilang Resmi Jadi Pendeta GOKN

Penulis: Melki Terumampen

Amsterdam, Kabarbelanda.com – Komunitas Kristen Indonesia di Belanda kembali mendapat penguatan pelayanan. Pada 15 Maret 2026, Pendeta Ryanto Adilang, M.Th., CC. resmi diteguhkan sebagai Pendeta di Gereja Oikumene Kawanua Nederland (GOKN).

Peneguhan ini menjadi momen penting, tidak hanya bagi Ryanto secara pribadi, tetapi juga bagi diaspora Indonesia yang selama ini menjadikan gereja sebagai ruang bertumbuh bersama di tanah rantau.

Juga bukan sekadar seremoni gerejawi. Ia menjadi simbol panggilan, perjalanan panjang, sekaligus komitmen seorang anak muda dari Sangihe untuk melayani umat Tuhan jauh dari tanah kelahiran.

Hadir dalam peneguhan, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung.

Foto: Vanda Moningka

Dari Sangihe ke Mimbar Internasional

Ryanto Adilang lahir di Sangihe, 20 Mei 1995. Ketertarikannya pada dunia teologi sudah tumbuh sejak bangku SMA. Pilihan hidupnya semakin jelas ketika pada 2013 ia melanjutkan studi di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.

Di kampus, Ryanto dikenal sebagai mahasiswa berprestasi. Hampir setiap semester, ia menempati peringkat pertama. Tahun 2015, ia dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa—sebuah posisi yang memperlihatkan kapasitas kepemimpinannya sejak dini.

Tak hanya di lingkup akademik, Ryanto juga aktif dalam berbagai organisasi, termasuk GMKI. Keterlibatan ini membentuk kepekaan sosial dan spiritualnya.

Pada 2017, ia lulus sebagai sarjana terbaik. Ia kemudian melanjutkan studi magister di kampus yang sama dan menyelesaikannya pada 2019, dengan fokus pada Biblika Perjanjian Baru—bidang yang kemudian menjadi pijakan utama dalam pelayanan dan pengajarannya.

Terpanggil Melayani

Selepas menyelesaikan studi S2, Ryanto tidak berhenti berkarya. Ia lolos seleksi CPNS dan menjadi dosen di IAKN Manado, mengajar Biblika Perjanjian Baru.

Di lingkungan akademik, ia juga dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis. Ia pernah menjadi Kepala Pusat Pengembangan Karir, Sekretaris Program Studi Teologi, hingga Ketua Program Studi Teologi.

Namun, bagi Ryanto, panggilan hidupnya tidak berhenti di ruang kelas.

Pada 2024, ia mengikuti seleksi beasiswa LPDP dan berhasil lolos dalam satu kali percobaan. Kesempatan itu membawanya melanjutkan studi doktoral (PhD) di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, sebuah kampus dengan reputasi kuat di bidang Teologi Kristen, khususnya Perjanjian Baru.

“VU Amsterdam memiliki profesor-profesor yang sangat kompeten di bidang Perjanjian Baru. Itu menjadi salah satu alasan utama saya memilih studi di sana,” ujarnya.

Foto: Vanda Moningka

Tinggal di Belanda memberi pengalaman baru bagi Ryanto. Ia merasakan sistem kehidupan yang tertata dan perhatian besar terhadap mahasiswa.

“Kehidupan di Belanda cukup menyenangkan. Akses terhadap referensi ilmiah sangat mudah, dan dukungan terhadap mahasiswa sangat terasa,” katanya.

Namun, di tengah kenyamanan itu, Ryanto melihat tantangan yang tidak kecil, khususnya dalam kehidupan beriman.

Tinggalkan Balasan