Idulfitri di Amsterdam, Menemukan Rumah dalam Kebersamaan

Penulis: Yuke Mayaratih

Amsterdam, Kabarbelanda.com – Pagi itu, udara Amsterdam menggigit. Termometer menunjukkan delapan derajat Celsius, bahkan terasa seperti tiga derajat karena hembusan angin. Namun, dingin tak pernah benar-benar mampu menahan hangatnya rindu akan kampung halaman.

Di kota yang jauh dari garis khatulistiwa, di antara bangunan-bangunan tua dan udara yang masih menyisakan dingin, Idulfitri menemukan maknanya yang lain: menjadi rumah bagi mereka yang sedang jauh dari rumah.

Foto: Wahyu Koen

Sekitar dua ribu warga Indonesia di Belanda berkumpul di Rhone Events & Congres Centrum, Amsterdam, untuk menunaikan salat Idulfitri. Mereka datang dari berbagai kota, membawa satu hal yang sama: kerinduan akan kebersamaan yang akrab seperti di Tanah Air.

Sejak pukul 08.00 waktu setempat, gema takbir memenuhi ruangan. Lantunan itu bukan sekadar seruan kemenangan, melainkan juga jembatan batin yang menghubungkan mereka dengan Indonesia, dengan keluarga yang mungkin hanya bisa dijangkau lewat doa dan layar gawai.

Khutbah disampaikan oleh Ustad Abi Quhafah, sementara Prof. Sanuri memimpin salat sebagai imam. Dalam hening yang khusyuk, ribuan kepala tertunduk, menyatu dalam satu arah, satu harapan, dan satu rasa syukur.

Foto: Wahyu Koen

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, salat Idulfitri kali ini dilaksanakan dalam satu sesi. Kapasitas gedung yang besar memungkinkan seluruh jemaah berkumpul bersama. Dalam satu ruang, mereka tidak hanya berbagi saf, tetapi juga berbagi cerita sebagai diaspora yang merajut kehidupan jauh dari tanah kelahiran.

Tinggalkan Balasan