Sekularitas menjadi realitas yang kuat di Belanda. Nilai-nilai spiritual tidak lagi menjadi pusat kehidupan banyak orang.
Di situlah Ryanto menemukan panggilan yang lebih dalam.
Selama menjalani studi doktoralnya, ia aktif melayani komunitas diaspora Kristen Indonesia, khususnya di GOKN. Hingga akhirnya, pada 15 Maret 2026, ia diteguhkan sebagai pendeta.
Gereja sebagai Rumah Diaspora
Bagi Ryanto, gereja di tanah rantau memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah.
Ia melihat gereja sebagai ruang untuk membangun solidaritas dan kebersamaan antar diaspora Indonesia.
“Pertumbuhan rohani harus berjalan seiring dengan pertumbuhan solidaritas. Gereja harus menjadi tempat yang memperkuat ikatan kekeluargaan, bukan hanya tempat beribadah,” ujarnya.
Dalam konteks diaspora, kerinduan akan “rumah” seringkali hadir dalam bentuk yang berbeda. Gereja menjadi tempat di mana bahasa, budaya, dan iman bertemu.
Meski sedang menempuh studi doktoral selama empat tahun, Ryanto tidak ingin menjadikan akademik sebagai satu-satunya fokus.
Ia berkomitmen untuk mengisi masa studinya dengan pelayanan nyata.
“Selama di Belanda, saya ingin tidak hanya belajar, tetapi juga melayani umat Tuhan, baik di GOKN maupun gereja-gereja Indonesia lain yang membutuhkan,” katanya.
Komitmen ini mencerminkan keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas—dua hal yang berjalan beriringan dalam hidupnya.
Di balik segala pencapaiannya, Ryanto tetap sosok sederhana. Hobinya membaca buku, sebuah kebiasaan yang memperkaya wawasan sekaligus memperdalam refleksi iman.
Pendeta Ryanto yang saat ini masih lajang, memilih memusatkan perhatian pada studi serta pelayanan.
Lebih dari itu, Ryanto adalah gambaran generasi muda gereja yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki hati untuk melayani.
Menjadi Terang di Negeri Sekular
Peneguhan Pendeta Ryanto Adilang di GOKN menjadi pengingat bahwa pelayanan gereja tidak mengenal batas geografis.
Di tengah masyarakat yang semakin sekular, kehadiran gereja tetap dibutuhkan, bukan hanya sebagai institusi, tetapi sebagai komunitas yang hidup.
Dan di tengah diaspora Indonesia di Belanda, sosok seperti Ryanto hadir sebagai jembatan: antara iman dan intelektualitas, antara tanah air dan perantauan, antara Tuhan dan umat-Nya.
Di sanalah, pelayanan menemukan maknanya yang paling sederhana namun paling dalam.
Peneguhannya sebagai pendeta menjadi harapan baru bagi komunitas Indonesia di Belanda, bahwa di tengah kehidupan diaspora, iman dan kebersamaan tetap dapat bertumbuh.

