Dalam keyakinan religius tersebut, sosok Wiku Tapini berada dalam pengawasan Bathari Durga, dewi pelindung sekaligus penguasa kegelapan. Karena itu, ketika merangkai banten, seorang Wiku Tapini melakukannya dengan sangat khusyuk dan penuh kehati-hatian.
Dalam keseharian, ia menjalani hidup dengan disiplin tinggi dan kesadaran penuh untuk mengabdi kepada Sang Hyang Widhi. “Kesalahan dalam membuat banten dipercaya dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat Bali,” ujar Agung Bawantara, sutradara film ini, dalam wawancara dengan Nusabali.com.

Sebuah film dokumenter yang kuat bukan hanya merekam realitas, tetapi juga mampu membuka wawasan baru bagi penontonnya. Wiku Tapini memenuhi kriteria tersebut. Film ini tidak semata menampilkan rangkaian peristiwa keagamaan dan panorama alam Bali, tetapi juga mengantar penonton memahami kehidupan nyata masyarakatnya.
Produksi film ini didukung dana hibah Dana Indonesiana dan LPDP Kementerian Keuangan tahun 2023. Proses pengerjaannya memakan waktu cukup panjang karena harus menyesuaikan jadwal dengan tokoh Wiku Tapini, jelas Maria Ekaristi selaku produser.
Film dokumenter ini sangat relevan bagi para pemerhati kebudayaan. Bali telah lama dikenal sebagai destinasi budaya dunia. Kekayaan budayanya, yang tampak dalam berbagai bentuk kesenian, berakar kuat pada sistem kepercayaan yang dianut mayoritas masyarakatnya.
KBRI Den Haag bekerja sama dengan PBI Fusion Arts akan memutar film dokumenter Wiku Tapini di IHA, Brachthuijzerstraat 4, Amsterdam. Pemutaran dijadwalkan pada Jumat, 13 Februari 2026, pukul 15.00–17.00. Setelah pemutaran, akan digelar diskusi dan ramah tamah bersama Maria Ekaristi sebagai produser film. Diskusi juga menghadirkan Brian Trinada, kandidat PhD Universitas Amsterdam, yang akan membahas film ini dari sudut kajian budaya. Penonton dapat menyaksikan film dokumenter ini tanpa dipungut biaya.
Selamat menyaksikan.

