Yang menarik, para peserta BIPA tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga membawa latar belakang akademik dan minat sejarah yang memperkaya dinamika kelas. Monique Ligtenberg, misalnya, pernah meneliti keterlibatan warga Swiss dalam Tentara Hindia Belanda. Di wisuda ini hadir pula Philipp Krauer, sejarawan ETH Zürich dan penulis buku Swiss Mercenaries in the Dutch East Indies, yang menelusuri jejak warga Swiss di Asia Tenggara.

“Kerja sama Indonesia–Swiss bukan cuma angka atau perjanjian,” kata Simon, siswa BIPA 4. “Yang paling terasa adalah hubungan antarmanusia, belajar bersama, tertawa bersama, dan saling mengenal lewat budaya.”
Dukungan dari KBRI Bern
Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, memberikan apresiasi kepada seluruh pemelajar yang telah menyelesaikan program di tengah kesibukan studi dan pekerjaan.
“Dedikasi Anda menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap Indonesia,” ujarnya. Ia berharap BIPA dapat menjadi jembatan persahabatan menjelang 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Swiss pada 2026.

Ditutup dengan Sajian Nusantara
Setelah prosesi wisuda, para peserta menikmati hidangan khas Indonesia, mulai dari rendang, sate ayam, salada padang, tempe orek, sosis solo, hingga martabak manis dan dadar gulung. Lagu-lagu Indonesia kembali dinyanyikan, menambah hangat suasana.
Sejak dimulai pada 2020, program BIPA KBRI Bern yang bekerja sama dengan Badan Bahasa telah diikuti sekitar 200 pemelajar. Lebih dari sekadar kelas bahasa, program ini menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkuat citra positif Indonesia di Swiss dan Liechtenstein.

