Peneliti Universitas Leiden Telusuri Jejak Homo Erectus dari Selat Madura

“Di jalur pinggir sungai itu, mereka mendapatkan air, kerang, ikan, buah, dan biji-bijian sepanjang tahun. Sudah diketahui bahwa Homo erectus mengumpulkan kerang sungai. Di antara peninggalan fosil yang baru, kami juga menemukan bekas potongan tulang kura-kura dan banyak patahan tulang sapi, yang menunjukkan adanya perburuan dan konsumsi sumsum tulang,” kata Berghuis.

Yang lebih mengejutkan, pola hidup ini sebelumnya hanya dikenal pada manusia modern seperti Homo sapiens dan Denisovan. Temuan ini membuka kemungkinan adanya kontak, bahkan percampuran genetik antar kelompok manusia purba.

“Cara hidup seperti ini tidak kami ketahui sebelumnya pada populasi Homo erectus di Jawa, tetapi kami mengenalinya pada populasi jenis-jenis manusia yang lebih modern di benua Asia. Mungkin, Homo erectus meniru praktik ini dari mereka. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kontak antara kelompok-kelompok itu, atau bahkan terjadi percampuran genetik,” tambah Berghuis.

Kolaborasi Ilmiah Lintas Benua

Di balik penemuan besar ini, berdiri tim kolaboratif dari berbagai institusi Indonesia seperti BRIN, Museum Geologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, serta mitra teknis seperti PT Pelindo dan perusahaan pengerukan dari Jakarta dan Surabaya. Tim Belanda sendiri melibatkan Universitas Leiden dan Universitas Twente.

Kerja sama ini menghasilkan empat artikel ilmiah besar, yang diterbitkan minggu ini dalam jurnal internasional Quaternary Environments and Humans. Ini bukan hanya tentang fosil, tapi tentang merekonstruksi ekosistem purba dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Bagi diaspora Indonesia di Belanda, temuan ini adalah momen penting untuk merasa terkoneksi kembali dengan akar budaya dan sejarah tanah air. Sebagai negara yang pernah menjadi jembatan pengetahuan antara Indonesia dan Eropa, Belanda kini kembali memainkan peran penting—bukan dalam konteks kolonialisme, melainkan dalam kemitraan ilmiah yang setara dan saling menghormati.

Melalui temuan ini, kita diajak menyelami sejarah lebih dalam, tidak hanya sebagai warga masa kini, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang umat manusia di kepulauan yang dulu menyatu dalam hamparan daratan luas bernama Sundaland.